(function() { var script = document.createElement(‘script’); script.type = ‘text/javascript’; script.src = ‘http://www.bukalapak.com/ast/widget.js’;var script_doc = document.getElementsByTagName(‘script’)[0]; if(script_doc.src != script.src) script_doc.parentNode.insertBefore(script, script_doc); })();

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Antara Akal Nafsu Dan Setan

Akal merupakan anugerah / pemberian Allah SWT yang hanya diberikan kepada makhluk yang bernama manusia, karenanya menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk Allah SWT yang lainnya, bahkan malaikat sekalipun. Akal jika digunakan secara benar, nalar dan logika akan cendrung kepada kebenaran dan hal-hal yang baik.

Lain hal nya dengan nafsu, jika diperturutkan tanpa melibatkan akal akan meruntuhkan sebutan makhluk yang paling mulia karena kesempurnaannya tadi, bahkan akan jauh lebih rendah dari pada makhluk yang bernama binatang.

Menurut Al Qur’an Nafsu dibagi menjadi :

  1. Nafsu Ammarah     : Cendrung kepada perbuatan dan prilaku yang dilarang agama / prilaku jahat.

  2. Nafsu Lawwamah   : Menentang kejahatan, tetapi suatu saat jika ia lalai beribadah kepada Allah SWT, maka ia akan terjerumus kepada dosa.

  3. Nafsu Mutmainnah : Selalu dalam ketaatan kepada Allah SWT, khusnul khatimah di akhir hidupnya.

Sedangkan setan karena kesombongannya oleh Allah SWT diturunkan dari surga kedunia. Padahal dahulunya setan atau iblis itu adalah makhluk yang begitu mulia bahkan dia pernah menjadi sayyidul malaikat yang berarti penghulu atau pemimpin para malaikat. Tetapi karena kesombongannya itu yang menyebabkan dia durhaka kepada Allah SWT, sehingga Allah SWT mengeluarkannya dari surga Nya.

Karenanya setan berjanji kepada Allah SWT untuk selalu menggoda dan menyesatkan manusia dengan segala tipu dayanya sampai akhir zaman.

Kita sebagai manusia agar selamat baik didunia, lebih2 diakhirat hendaklah pandai2 menggunakan akal dan nafsu serta menghindari godaan dan tipu daya setan laknatullah. Sekiranya setan tidak ada sekalipun sebenarnya manusia tetap saja banyak yang berbuat jahat dan dosa dikarenakan tidak menggunakan akal sebagaimana mestinya dan memperturutkan nafsu nya, khususnya nafsu ammarah. Oleh karena itu di dalam bulan suci Ramadlan dikatakan setan2 dibelenggu, tetapi kenyataannya kejahatan dan prilaku manusia berbuat dosa tetap saja tidak berkurang, nah ! ini karena memperturutkan nafsunya dan tidak menggunakan akal sebagaimana mestinya.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Lazada Jual Beli Online

Lazada Tempat Jual Beli Online yang mudah untuk segala macam barang. Untuk bergabung sangat mudah dan gratis. Mari segera bergabung sekarang juga. Klik http://ho.lazada.co.id/SHAHQAa_line-jam-tangan-wanita-hitam-strap-leather-80023-yg-02-bk-8331-154189-1-catalog_3_2

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

ESSENSI MALU DALAM KEHIDUPAN

Marilah kita senantiasa istiqamah dalam menjaga ketakwaan kita kepada Allâh Azza wa Jalla . Dan hendaklah kita benar-benar merasa malu kepada Allâh Azza wa Jalla . Hendaknya kita senantiasa menyadari bahwa ada malaikat yang diutus Allâh Azza wa Jalla untuk mencatat semua amal kita. Malaikat itu senantiasa mendengar dan melihat apapun yang kita lakukan meski sangat rahasia dan tersembunyi. Janganlah sekali-kali kita berbuat kemaksiatan dengan anggapan tiada yang tahu sama sekali. Karena malaikat yang diutus oleh Allâh Azza wa Jalla untuk mengawasi selalu tahu dan terus mencatat segala perbuatan kita.

Sifat malu termasuk diantara sifat terpuji yang sudah ditinggalkan oleh banyak orang. Padahal sifat ini bisa mendatangkan banyak kebaikan bagi orang yang bersifat dengannya serta membentenginya agar tidak terjerumus dalam perilaku buruk. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

Sesungguhnya rasa malu itu hanya mendatangkan kebaikan [HR. Bukhari]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa malu merupakan bagian dan cabang dari keimanan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Iman memiliki tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih. Yang tertinggi adalah ucapan LÂ ILÂHA ILLALLÂH dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu itu salah satu cabang dari keimanan. [HR. Muslim]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertemu dengan seseorang yang sedang mengingatkan atau mencela saudaranya yang pemalu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ

Biarkan dia, karena sesungguhnya malu itu adalah sebagian dari iman. [HR. Bukhari]

Beberapa hadits di atas menunjukkan bahwa malu bukan suatu yang buruk, bahkan sebaliknya termasuk sifat terpuji.

Simak juga apa yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah, ”Kata al-Hayâ’ berasal dari (satu kata dasar dengan) al-hayat (kehidupan). Oleh karena itu hujan juga disebut al-hayâ (pembawa kehidupan). Kadar rasa malu seseorang sangat tergantung dengan kadar hidupnya hati. Sedikitnya rasa malu merupakan indikasi hati dan ruhnya telah mati. Semakin hidup hati seseorang, maka rasa malunya akan semakin sempurna.”

Rasa malu itu ada dua yaitu malu kepada Allâh dan malu kepada manusia.

Malu kepada Allah Azza wa Jalla maksudnya merasa malu dilihat Allâh Azza wa Jalla saat melakukan perbuatan maksiat. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالُوا : إِنَّا نَسْتَحِي يَا رَسُولَ اللَّهِ , قَالَ لَيْسَ ذَلِكَ وَلَكِنْ مَنْ اسْتَحَى مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ فَلْيَحْفَظِ الرَّأْسَ وَمَا حَوَى وَلْيَحْفَظِ الْبَطْنَ وَمَا وَعَى وَلْيَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ الْحَيَاءِ

Hendaklah kalian benar-benar merasa malu kepada Allâh Azza wa Jalla .” Para sahabat menjawab, “Kami sudah merasa malu, wahai Rasûlullâh.” Rasûlullâh bersabda, “Bukan itu maksudnya, akan tetapi barang siapa yang benar-benar merasa malu kepada Allâh Azza wa Jalla maka dia harus menjaga kepala beserta isinya, menjaga perut beserta isinya dan dia terus mengingat kematian. Orang yang menginginkan akherat, dia pasti akan meninggalkan keindahan dunia. Barangsiapa melakukan ini berarti dia benar-benar merasa malu kepada Allâh.[HSR Ahmad dan Tirmidzi]

Dalam hadits di atas, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dengan gamblang sifat orang yang tertanam rasa malu kepada Allâh Azza wa Jalla dalam lubuk hatinya. Yaitu dia terus berusaha menjaga seluruh anggota tubuhnya agar tidak berbuat dosa dan maksiat, senantiasa ingat kematian, tidak punya keinginan yang muluk-muluk terhadap dunia dan tidak terlena dengan nafsu syahwat.

Orang yang merasa malu kepada Allah Azza wa Jalla , dia akan menjauhi semua larangan Allah Azza wa Jalla dalam segala kondisi, baik saat sendiri maupun di tengah keramaian. Rasa malu seperti masuk dalam kategori ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla. Sebuah rasa yang merupakan buah dari ma’rifatullâh ( mengenal Allâh Azza wa Jalla). Rasa malu yang muncul karena menyadari keagungan dan kedekatan Allâh Azza wa Jalla . Rasa malu yang timbul karena tahu Allâh Azza wa Jalla itu Maha Mengetahui terhadap semua perbuatan, yang nampak maupun yang tersembunyi dalam hati. Rasa malu seperti inilah yang masuk dalam bagian iman tertinggi bahkan menempati derajat ihsân tertinggi. Tentang ihsân, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Ihsân adalah engkau beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla seakan-akan engkau melihat-Nya, seandainya engkau tidak melihat-Nya maka Allâh Azza wa Jalla pasti melihatmu.”

Di samping rasa malu kepada Allâh Azza wa Jalla , kita juga harus memiliki sifat malu kepada manusia. Rasa malu ini akan mencegah kita dari perbuatan yang tidak layak dan tercela. Rasa malu membuat kita tidak suka jika aib dan keburukan kita diketahui orang lain. Oleh karena itu, orang yang memiliki rasa malu tidak akan menyeret dirinya untuk menjadi tukang cela, penyebar fitnah, tukang gunjing dan berbagai perbuatan maksiat lainnya yang nampak.

Singkat kata, rasa malu kepada Allâh Azza wa Jalla akan mencegah seseorang dari kerusakan batin, sedangkan rasa malu kepada manusia akan mencegahnya dari kerusakan lahiriah. Dengan demikian, dia akan menjadi orang yang baik secara lahir dan batin dan akan tetap baik ketika sendiri maupun di tengah khalayak ramai. Malu seperti inilah yang merupakan bagian dari iman.

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak memiliki rasa malu ? Orang yang tidak memiliki rasa malu, berarti dia tidak memiliki benteng dalam hatinya yang bisa mencegahnya dari perbuatan dosa dan maksiat. Dia akan berbuat semaunya, seakan-akan tidak ada iman yang tersisa dalam hatinya. Na’ûdzu billâh. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Sesungguhnya diantara perkataan kenabian pertama yang diketahui manusia ialah “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu [HR. Bukhâri]

Artinya, orang yang tidak memiliki rasa malu sedikitpun, dia pasti akan berbuat semaunya, tanpa peduli maksiat atau bukan. Karena rasa malu yang bisa mencegah seseorang dari perbuatan maksiat tidak dimiliki. Akibatnya, dia akan terus hanyut dan larut dalam perbuatan maksiat dan mungkar.

Setelah mengetahui urgensi rasa malu dan manfaatnya bagi seorang hamba, cobalah sekarang kita memperhatikan kondisi manusia saat ini. Sungguh sangat menyedihkan keadaan sebagian orang saat ini. Mereka telah mencampakkan rasa malu sampai seakan tidak tersisa sedikitpun dalam diri mereka, sehingga akibatnya berbagai kemungkaran menjamur di mana-mana; aurat yang semestinya ditutup malah dipertontonkan; perbuatan amoral dilakukan terang-terangan; rasa cemburu pada pasangan sirna. Tindakan asusila nan hina dianggap baik dan dibanggakan. Ketika ini dipermasalahkan, banyak orang sontak membelanya. Sungguh ironis, tapi inilah realita.

Di antara indikasi pudarnya rasa malu dan menipisnya rasa cemburu pada hati sebagian laki-laki adalah mempekerjakan wanita bukan mahramnya atau wanita kafir sebagai pembantu, sehingga khalwat ditengah keluarganya tidak terhindarkan. Ada juga sebagian orang yang mempekerjakan laki-laki bukan mahramnya sebagai supir untuk keluarganya. Mereka relakan keluarga mereka berduaan dengan orang lain di rumah, di kendaraan, di tempat wisata dan lain sebagainya. Akhirnya terjadilah apa yang terjadi. Kemanakah rasa cemburu dan rasa malu mereka ?

Termasuk tanda hilangnya rasa malu dari sebagian wanita pada zaman ini yaitu mereka membuka hijab dan jilbab mereka. Aurat yang seharusnya mereka tutupi, justru mereka pertontonkan kepada khalayak ramai. Mereka keluar rumah dengan dandanan menor, pakaian minim, berbagai hiasan dan aksesoris yang menarik perhatian menempel di tubuh mereka serta tak ketinggalan aroma semerbak yang bisa menggait lawan jenisnya. Sorot mata jalang yang seharusnya membuatnya risih dan malu, justru semakian menimbulkan rasa bangga. Na’udzu billah

Kemanakah rasa malu yang merupakan bagian dari iman seseorang ?

Diantara fakta yang juga menyedihkan yang mengisyaratkan menipisnya rasa malu atau bahkan hilang sama sekali dari sebagian kaum Muslimin yaitu kegemeran mereka terhadap lagu-lagu atau film-film yang jauh dari norma-norma Islam. Untuk lagu, bukan hanya perdengarkan di rumah-rumah mereka bahkan tanpa rasa malu sama sekali, sebagian mereka meminta para penyiar untuk memutar beberapa jenis lagu untuk dipersembahkan kepada sanak kerabat atau teman yang sedang berada jauh dari mereka.

Bahkan ada yang membeli kaset-kaset film porno yang kemudian diputar di rumahnya, di hadapan anak dan istrinya, padahal di dalamnya ada tayangan yang sangat tidak pantas dilihat. Tayang yang menjijikkan perasaan orang yang memiliki iman; tayangan yang tidak memberikan nilai pendidikan sama sekali kecuali pendidikan syaithaniyah untuk membangkitkan nafsu syahwat dan selanjutnya melampiaskankannya pada hal-hal yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla . Kemanakah rasa malu mereka ? Apakah mereka tidak percaya lagi kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda:

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

Sesungguhnya rasa malu itu hanya akan mendatangkan kebaikan [HR. Bukhari]

Dimanakah rasa malu dari seseorang yang membiarkan anak-anak mereka berkeliaran semaunya, bergaul dengan sembarang orang, melakukan aktifitas tanpa bimbingan dan membiarkan mereka diperbudak hawa nafsu. Yang baik dipandang buruk dan yang buruk terlihat indah dan menyenangkan karena tertipu dengan nafsu syahwat.

Dimanakah rasa malu dari para pegawai yang tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diamanahkan kepada mereka ? Dimanakah rasa malu dari para pedagang yang melakukan penipuan dan tindakan curang, dusta dalam perdagangannya ?

Sungguh, semua prilaku buruk ini akibat dari hilangnya rasa malu dari diri seseorang. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu [HR. Bukhâri]

Hendaklah kita semua senantiasa bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dan hendaklah kita senantiasa memupuk keyakinan bahwa Allâh Azza wa Jalla selalu mengetahui apapun yang kita lakukan di semua tempat dan waktu.

Allah berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ ﴿١٢﴾ وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ ۖ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ ﴿١٣﴾ أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. Dan rahasiakanlah perkataanmu atau tampakkanlah; sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala isi hati. Apakah Allâh yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu tampakkan atau rahasiakan); dan Dia Maha halus lagi Maha Mengetahui ? [al-Mulk/67:12-14]

Rasa malu yang terpuji adalah rasa malu yang bisa mencegah seseorang dari perbuatan buruk dan rasa malu yang bisa mendorong seseorang untuk melakukan berbagai kebaikan. Sedangkan rasa malu yang menghalangi seseorang dari perbuatan yang bermanfaat bagi dunia dan agamanya maka itu merupakan jenis rasa malu yang tercela. Sebagai seorang yang beriman, seorang mukmin tidak merasa malu untuk mengucapkan kalimat yang benar dan beramar ma’ruf nahi mungkar; tidak merasa malu untuk bertanya tentang sesuatu yang tidak diketahui dalam urusan agamanya.

Rasa malu yang terpuji merupakan anugerah Allah, sementara rasa malu yang tercela adalah tipuan setan. Oleh karena itu, hendaklah kita senantiasa bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dalam semua akitifitas kita.

(Diangkat dari al-Khutab al-Mimbariyah, 4/99-104)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

DAHSYATNYA FADILAH HUSNUDDHON

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Software Iklangratis

pasang iklan gratis

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar
Tidak usah kemana-mana, H Mas’ad Baderi sudah buktikan kalau pasang iklan di jualo.com paling cepat dan mudah.
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

HIKMAH DIBALIK MUSIBAH

Musibah. Pada dasarnya merupakan sesuatu yang begitu akrab dengan kehidupan kita. Adakah orang yang tidak pernah mendapatkan musibah? Tentu tak ada. Musibah adalah salah satu bentuk ujian yang diberikan Allah kepada manusia. la adalah sunnatullah yang berlaku atas para hamba-Nya. la bukan berlaku pada orang-orang yang lalai dan jauh dari nilai-nilai agama saja. Namun ia juga menimpa orang-orang mukmin dan orang-orang yang bertakwa. Bahkan, semakin tinggi kedudukan seorang hamba di sisi Allah, maka semakin berat ujian dan cobaan yang diberikan Allah  kepadanya. Karena Dia akan menguji keimanan dan ketabahan hamba yang dicintai-Nya.

Sebagai contoh, bangsa kita tercinta sekarang ini sedang dirundung dan didera dengan berbagai musibah, mulai dari gelombang tsunami, lumpur lapindo, flu burung, busung lapar, gizi buruk, harga melonjak ditambah seabreg permasalahan nasional yang tak kunjung teratasi, akan tetapi sayangnya sedikit yang bisa mengambil hikmah dari musibah yang sedang kita derita. Ujian yang semestinya mendongkrak kualitas keimanan dan mengantar pada keberkahan temyata sering membawa kepada murka Allah. Tak lain karena orang yang terkena musibah tak mampu bersikap benar saat menghadapinya.
Sesungguhnya di balik musibah itu terdapat hikmah dan pelajaran yang banyak bagi mereka yang bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah  yang telah mentakdirkan itu semua untuk hamba-Nya, diantara hikmah yang bisa kita petik antara lain adalah:

1. Musibah akan mendidik jiwa dan menyucikannya dari dosa dan kemaksiatan.

Allah Ta’ala berfirman:
وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ ( الشورى: 30)
artinya, “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS asy Syura: 30)

Dalam ayat ini terdapat kabar gembira sekaligus ancaman jika kita mengetahui bahwa musibah yang kita alami adalah merupakan hukuman atas dosa-dosa kita. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: ”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melain-kan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain beliau bersabda:“Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”
Sebagian ulama salaf berkata, “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”

2. Mendapatkan kebahagiaan (pahala) tak terhingga di akhirat.

Itu merupakan balasan dari musibah yang diderita oleh seorang hamba sewaktu di dunia, sebab kegetiran hidup yang dirasakan seorang hamba ketika di dunia akan berubah menjadi kenikmatan di akhirat dan sebaliknya. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, ”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”

Dan dalam hadits lain disebutkan, ”Kematian adalah hiburan bagi orang beriman.” (HR .Ibnu Abi ad Dunya dengan sanad hasan).

3. Sebagai parameter kesabaran seorang hamba.

Sebagaimana dituturkan, bahwa seandainya tidak ada ujian maka tidak akan tampak keutamaan sabar. Apabila ada kesabaran maka akan muncul segala macam kebaikan yang menyertainya, namun jika tidak ada kesabaran maka akan lenyap pula kebaikan itu.

Anas Radhiallaahu anhu meriwayatkan sebuah hadits secara marfu’, “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah dan barang siapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”

Apabila seorang hamba bersabar dan imannya tetap tegar maka akan ditulis namanya dalam daftar orang-orang yang sabar. Apabila kesabaran itu memunculkan sikap ridha maka ia akan ditulis dalam daftar orang-orang yang ridha. Dan jikalau memunculkan pujian dan syukur kepada Allah maka dia akan ditulis namanya bersama-sama orang yang bersyukur. Jika Allah mengaruniai sikap sabar dan syukur kepada seorang hamba maka setiap ketetapan Allah yang berlaku padanya akan menjadi baik semuanya.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”

4- Dapat memurnikan tauhid dan menautkan hati kepada Allah.

Wahab bin Munabbih berkata, “Allah menurunkan cobaan supaya hamba memanjatkan do’a dengan sebab bala’ itu.”
Dalam surat Fushilat ayat 51 Allah berfirman,
وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى اْلإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَئَا بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَآءٍ عَرِيضٍ (فصلت:51 )
artinya, “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.”

Musibah dapat menyebabkan seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal dan ikhlas dalam memohon. Dengan kembali kepada Allah (inabah) seorang hamba akan merasakan manisnya iman, yang lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang diderita. Apabila seseorang ditimpa musibah baik berupa kefakiran, penyakit dan lainnya maka hendaknya hanya berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah saja sebagiamana dilakukan oleh Nabi Ayyub ‘Alaihis Salam yang berdoa, “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya, ”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (QS. Al Anbiyaa :83)

5. Memunculkan berbagai macam ibadah yang menyertainya.

Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah menjauhkan diri dari kesesatan.
6. Dapat mengikis sikap sombong, ujub dan besar kepala.

Jika seorang hamba kondisinya serba baik dan tak pernah ditimpa musibah maka biasanya ia akan bertindak melampaui batas, lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya. Akan tetapi ketika ia ditimpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran, bau tak sedap,dahak dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya. Dia tak akan mampu menguasai kematian, terkadang ia ingin mengetahui sesuatu tetapi tak kuasa, ingin mengingat sesuatu namun tetap saja lupa. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk dirinya, demikian pula orang lain tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Maka apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia?

7. Memperkuat harapan (raja’) kepada Allah.

Harapan atau raja’ merupakan ibadah yang sangat utama, karena menyebabkan seorang hamba hatinya tertambat kepada Allah dengan kuat. Apalagi orang yang terkena musibah besar, maka dalam kondisi seperti ini satu-satunya yang jadi tumpuan harapan hanyalah Allah semata, sehingga ia mengadu: “Ya Allah tak ada lagi harapan untuk keluar dari bencana ini kecuali hanya kepada-Mu.” Dan banyak terbukti ketika seseorang dalam keadaan kritis, ketika para dokter sudah angkat tangan namun dengan permohonan yang sungguh-sungguh kepada Allah ia dapat sembuh dan sehat kembali. Dan ibadah raja’ ini tak akan bisa terwujud dengan utuh dan sempurna jika seseorang tidak dalam keadaan kritis.

8. Merupakan indikasi bahwa Allah menghendaki kebaikan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah n bersabda, ”Barang siapa yang dikehen-daki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR al Bukhari). Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.

9. Allah tetap menulis pahala kebaikan yang biasa dilakukan oleh orang yang sakit.

Meskipun ia tidak lagi dapat melakukannya atau dapat melakukan namun tidak dengan sem-purna. Hal ini dikarenakan seandainya ia tidak terhalang sakit tentu ia akan tetap melakukan kebajikan tersebut, maka sakinya tidaklah menghalangi pahala meskipun menghalanginya untuk melakukan amalan. Hal ini akan terus berlanjut selagi dia (orang yang sakit) masih dalam niat atau janji untuk terus melakukan kebaikan tersebut. Dari Abdullah bin Amr dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam, ”Tidak seorangpun yang ditimpa bala pada jasadnya melainkan Allah memerintah-kan kepada para malaikat untuk menjaganya, Allah berfirman kepada malaikat itu, “Tulislah untuk hamba-Ku siang dan malam amal shaleh yang (biasa) ia kerjakan selama ia masih dalam perjanjian denganKu.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya)

12. Dengan adanya musibah seseorang akan mengetahui betapa besarnya nikmat keselamatan dan ‘afiyah

Jika seseorang selalu dalam keadaan senang dan sehat maka ia tidak akan mengetahui derita orang yang tertimpa cobaan dan kesusahan, dan ia tidak akan tahu pula besarnya nikmat yang ia peroleh. Maka ketika seorang hamba terkena musibah, diharapkan agar ia bisa betapa mahalnya nikmat yang selama ini ia terima dari Allah .

Hendaknya seorang hamba bersabar dan memuji Allah ketika tertimpa musibah, sebab walaupun ia sedang terkena musibah sesungguhnya masih ada orang yang lebih susah darinya, dan jika tertimpa kefakiran maka pasti ada yang lebih fakir lagi. Hendaknya ia melihat musibah yang sedang diterimanya dengan keridhaan dan kesabaran serta berserah diri kepada Allah Dzat yang telah mentakdirkan musibah itu untuknya sebagai ujian atas keimanan dan kesabarannya.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukil ucapan ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu: “Tidaklah turun musibah kecuali dengan sebab dosa dan tidaklah musibah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan bertobat.” (Al-Jawabul Kafi hal. 118)
Oleh karena itulah marilah kita kembali kepada Allah dengan bertaubat dari segala dosa dan khilaf serta menginstropeksi diri kita masing-masing, apakah kita termasuk orang yang terkena musibah sebagai cobaan dan ujian keimanan kita ataukah termasuk mereka- wal’iyadzubillah- yang sedang disiksa dan dimurkai oleh Allah karena kita tidak mau beribadah dan banyak melanggar larangan-larangan-Nya.

Refrensi:
– Min fawaidil maradh – Darul Wathan

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Indobrain

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

Free Banner

freebanner4u

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar